Cerita Masa Lalu : 8.

WELL-DONE!

Dari Dermaga Menuju Perahu

Dissa menatap lekat kedua mata Ajeng, “Dibandingkan rasa cintanya kepadaku, ternyata katakutannya lebih besar. Dia memang lemah,” ucapnya.


Dissa kembali melangkah, meninggalkan Ajeng dengan kedua tangan mengepal lantaran kesal kepada Dissa.


Mamad terasingkan di suatu ruang persegi. Tidak ada lagi keramaian, yang ada hanya betapa setianya seorang sahabat terhadap sahabatnya.


“Dissa, Dissa,” dengan mata tertutup Mamad terus menggumamkan nama yang sama.

Ajeng memijat pelipisnya, ia betul-betul pusing dengan kisah percintaan sahabatnya yang pelik itu. “Aku selalu tidak percaya tentang orang patah hati yang berkata, ‘cinta itu pembodohan’. Tapi kini aku percaya, melihat kamu menjadi seperti ini,” ucapnya dalam hati.


Ajeng nyaris terlonjak mendengar bunyi pintu yang dibuka dengan sangat kasar, ia sontak menoleh karena hal itu dan melihat Enal setengah berlari ke arah Mamad dengan berurai air mata dan air muka masih terisi kekesalan.

Enal meremas kerah baju Mamad, ia lantas mengangkat Mamad ke udara tetapi ia segera melepaskannya. Kesedihan…

View original post 786 more words

This entry was posted in Uncategorized on by .

About Jonathan Caswell

Mr. Caswell has been composing poetry at least since High School. He has been on WORD PRESS for ten years and contributes to two other blogs beside this one. This blog has a Christian emphasis but all bloggers are welcome. Mr. Caswell chooses to---with permission--re[post material of interest

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.